Desa kecilku

1 10 2009

Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah adalah sebuah sekolah swasta Islam yang di sana dulu aku mengenyam ilmu-ilmu dasar membaca, menulis, berhitung, menggambar, bernyanyi, berolah raga dan lain sebagainya. Membaca huruf-huruf alfabhet dari A sampai Z. Menulis huruf besar dan kecil serta huruf Arab baik latin ataupun gandeng yang seperti truk atau kereta api. Yang aku sendiri tidak tahu waktu itu dari mana huruf-huruf itu berasal dan siapa yang membuatnya? Berhitung angka-angka yang susah dari penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dalam pelajaran Matematika. Belajar menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan Mbah Wage Rudolf Soepratman serta lagu Gundul-gundul Pacul versi pop, keroncong sampai Rock. Aku juga belajar menggambar pemandangan dua gunung dengan jalan setapak di bawahnya diapit sawah di kanan dan di kiri serta di atasnya beterbangan beberapa burung Sruwiti ( burung kecil seperti burung walet yang jika terbang seolah tak pernah mengepakkan sayapnya dan seperti layang-layang putus saja). Gambaran itu teringat, terukir, tertanam dan terpahat jelas di memoriku hingga dewasa. Dan sewaktu aku di suruh menggambar pemandangan pada training MOTIVASI di Jakarta yang ku gambar ya persis seperti itu. Hingga sang Traineer menertawakan peserta yang menggambar pemandangan seperti itu. Bagaimana tidak di tertawakan? Yang namanya pemandangan itu kan tidak hanya pemandangan dua gunung dengan jalan setapak di bawahnya diapit sawah di kanan dan di kiri serta di atasnya beterbangan beberapa burung Sruwiti. Tapi bisa juga pemandangan itu adalah pemandangan malam dengan bulan purnamanya atau pemandangan SUNRISE dan SUNSET-nya yang sangat indah dan mengagumkan, bukan begitu? Atau yang lainnya. Lha ini dari kecil hingga dewasa bisanya gambar pemandangan, itu-itu saja!! Kapan majunya? Di sana, di MIM itu juga aku diajarkan oleh Pak Mawardi guru olah raga asal Magelang yang tinggal di Petukangan, Wiradesa. Beliau senang memberi pelajaran Tenis Meja serta catur pada kami dan juga senam SKJ ( Senam Kesegaran Jasmani ) yang terus berseri seperti sinetron Tersanjung di Indosiar. Selain pelajaran Akademik aku juga diajarkan Ilmu-ilmu Agama Islam dari Sholat dengan syarat dan rukunnya hingga membaca dan menulis Alqur’an. Tak ketinggalan ilmu budi pekerti seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Kemuhammadiyahan. Dan sewaktu di kelas 3 MI kutemui guru laki-laki yang jika mengajar suaranya bak mesin ISUZU PANTHER. Nyaris tak terdengar. Sehingga jika kami murid-murid diajar beliau dan duduk di belakang bersiap-siaplah untuk membuka daun telinga lebar-lebar supaya gelombang suara pak guru yang frekuensinya hanya 200 Hz itu tertangkap di telinga dan masuk ke otak kita. Di kelas ini juga kepalaku pernah berdarah karena dibenturkan temanku ke dinding. Itu terjadi karena kebandelanku sebagai buah naluri kenakanlan anak laki-laki. Waktu itu aku berantem di kelas dengan

sahabatku yang badannya lebih besar dari aku. Sehingga tubuhku yang kecil mudah saja baginya untuk dikalahkan. Sedang waktu kelas 4 kami kemah TKA/TPA di Lapangan Api-Api, Wonokerto, Tingkat Kabupaten Pekalongan. Kami mewakili TKA/TPA Al-Himmah, Tunjungsari, Sragi dan waktu itu alhamdulillah kami juara UMUM 2. Aku sendiri alhamdulillah ikut menyumbangkan 2 gelar juara individu, juara 3 Lomba Baca Puisi Islami dan juara 3 Lomba Nasyid bareng saudaraku Saiful.

Aku juga diajarkan bagaimana caranya menghukum murid yang bandel, yang suka berisik dan kalau diperintah ia membantah. Pelajaran yang unik ini aku dapatkan dari Kepala Sekolahku yang usianya telah lanjut. Bahkan Ibuku sendiri katanya pernah diajarnya dulu. Hukuman itu adalah dengan menarik JAMBANG rambut anak yang bandel sehingga si anak menjerit kesakitan dengan keras seperti sedang belajar olah vokal do-re-mi-fa-sol-la-si-do-do-si-la-sol-fa-mi-re-do.

Di desa ini yang setiap hari jumat khususnya RT 06/01, ketua RT membunyikan TING (tiang listrik) dengan cara dipukul menggunakan batu untuk memanggil warganya supaya kerja bakti membersihkan jalanan dari rumput dan tanaman yang ranting-rantingnya menggangu jalanan dan menghambat aliran air di kalenan (saluran air). Dari anak kecil, remaja putra dan putri, ibu-ibu hingga

bapak-bapak semua turun dan keluar dari rumahnya untuk ikut serta dalam kerja bakti. Yang bapak-bapak dan remaja putra membabat rumput dan ranting-ranting pohon. Yang ibu-ibu dan remaja putri menyapu sampah dan membakarnya serta ada yang menyiapkan minuman dan makanan. Sedang anak-anak ikut nimbrung membersihkan tapi kebanyakan hanya ikut bersenang-senang dan bermain karena kerja bakti memanglah ramai. Semua warga begitu guyub dan rukun. Tak nampak bermusuhan. Walaupun kadang terjadi sedikit gesekan antar mereka namun hari itu adalah hari di mana setiap individu saling bahu membahu untuk menghasilkan lingkungan yang bersih dan asri. Dari jalan utama hingga jalan arteri yang menghubungkan antara gang yang satu dengan gang yang lain semua di bersihkan dan di rapihkan.

Setiap sebulan sekali, kami juga memandikan Musholla An Nurul Jannah. Satu-satunya musholla di Rt 06/01 desa Tunjungsari. Mengepel, menguras bak air selebar 3 meter x 1 meter, mencuci kambal/karpet musholla dan menjemurnya hingga kering dan membersihkan sawang/sarang laba-laba. Kami juga memperbaiki sasak/jembatan yang terbuat dari anyaman bambu ketika sasak tersebut mulai tercerai-berai.

Hari masih terang. Matahari juga belum memperlihatkan tanda-tanda akan terbenam. Tapi kambing-kambingku lari-lari. Ternyata ia terusik dan ketakutan dengan kedatangan kakakku yang lari menuju ke tempat di mana kambing-kambingku kugembalakan.

Auu…..au…..au….., sikilku loro,” jeritku merintih.

Kenopo Ibnu?” tanya kakakku.

Sikilku kejiret tali sing nggo naléni wedus iki lo mas!” jawabku singkat.

Yo wis kowé muléh rono kon simak kowé kon mangan sék, karo sekalian di obati, lha wedusé genténan aku sing angon!” kata kakakku yang ke 6 menjelaskan maksud kedatangannya.

Iyo kang aku arep muléh, tapi sikilku loro nggo mlaku angél!

Alah loro semono bé, cah lanang loro koyo kuwi nggo tombo otot. Ra popo-ra popo!” kakakku mengejekku.

Dan bekas tali itupun hingga kini masih membekas di pergelangan kaki kananku.


Aksi

Information

12 responses

2 10 2009
Wandi thok

Wuahahahaha haks, mas Dasir pancen lutju banget dah, kena tali kambing😆

4 10 2009
dasir

Keknya pak wandi kena black list sehingga ga bisa komen di BS hehehe..

2 10 2009
Wandi thok

Sudah berkali-kali aku bertahan ngeklik BSnya, tetep gak bisa komeng mas, jadi aku lari ke sini aja, link blog ini sudah ada padaku mas.🙄

4 10 2009
dasir

Karena aku belum serius di sini jadi maaf pak aku belum ngembangin wp ini..makasih pak..

2 10 2009
Wandi thok

Ceritanya buanyak banget ya mas, intinya apaya?🙄😆

4 10 2009
dasir

Pak ini itu novel jadi puncaknya ya msh jauh..ini baru awalan..

5 10 2009
حَنِيفًا

Salam kenal @mas Dasir,

Apa betul @mas Dasir ini yang pernah sebagai kontributor di gubug saiyah… duh maaf kalau salah ?!😦

5 10 2009
dasir

Maaf mas afifah (salah keknya diriku bacanya deh..), dasir belum pernah jadi kontributor di manapun kecuali di blog dasir yg di wp dan bs..mungkin orang lain kali mas..terimakasih..salam kenal juga mas..salam ukhuwah..

5 10 2009
حَنِيفًا

Ohh…. gituh yah blon to goblogku, mas pasir:mrgreen:

5 10 2009
yangputri

lho ada berapa biji blogmu das..?? tapi aku familiar ama blogmu yang d blogspot

5 10 2009
dasir

Ini blog cuma buat belajar wordpress yang..ternyata emang lebih mudah ketimbang bs..aku tetap di bs kok..

6 10 2009
dasir

Gapapa kang hanifa..terimakasih kunjungannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: