Desa kecilku

30 09 2009

Suasana kedamaian dan asri tanpa asap polusi masih bisa dirasakan. Udara yang masih terasa bersihnya selalu menjadi asupan oksigen bagi warga desa kecil yang berada di perbatasan 3 kecamatan. Kecamatan Sragi di sebelah barat, kecamatan Bojong di sebelah selatan dan kecamatan Wiradesa di sebelah timur sedang di utara dibatasi oleh rel kereta api yang daerah seberangnya masuk wilayah Sragi dan Wiradesa. Semua kecamatan tersebut termasuk dalam Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, pulau Jawa, Negara Indonesia, Regional Asia Tenggara, Benua Asia, Dunia / Bumi, Galaksi Bima Sakti, Alam Semesta.Desa mini ini yang namanya diambil dari nama sebuah bunga berpenduduk kurang lebih 1500 jiwa. Dengan agama Islam menjadi agama yang dianut hampir seluruh warganya. Tak ada agama lain di desa ini. Dan sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani. Walaupun ada yang berprofesi sebagai pedagang, guru, dokter dan penjahit. Padi masih menjadi idola tanaman di sawah. Dengan sebagian penduduk yang berpenghasilan dari padi maka di desa ini dibangunlah Pabrik Penggilingan Padi oleh seorang yang beruang. Beliau adalah H.Baedlowi. Meskipun sebenarnya pabrik tersebut posisinya ada di wilayah Sembung Jambu, Bojong.

Namun sekarang keadaan begitu memprihatinkan. Hampir semua remaja dan pemudanya merantau ke kota dan ke negeri orang. Sebagian memang sudah lulus SMA tapi tak sedikit yang baru lulus SD sudah merantau. Sehingga ketika kita datang ke Tunjungsari tidak pada Hari Raya kita tak akan menemui banyak remaja dan pemuda di sana. Yang ada hanyalah nenek-nenek dan janda-janda muda. Janda karena mereka banyak yang di tinggal suaminya ke kota walaupun sebenarnya mereka belum bercerai tapi ada juga yang memang janda betulan bukan bohongan. Padahal untuk merantau tidaklah segampang yang dibayangkan. Pendidikan sangatlah penting untuk mengarungi derasnya arus kehidupan kota. Apalagi pendidikan agama. Jika pendidikan agama kita dangkal atau iman kita tak tebal kita bisa terbawa arus yang menyeret kita ke dalam lumpur kehinaan dan lembah kegelapan serta kemaksiatan. Godaan kehidupan kota yang begitu materialistis, hedonis, apatis, dan individualis sanggup merubah seorang yanng tadi paginya Mukmin dan Muslim sorenya berubah menjadi Kafir dan murtad. Yang tadi siang adalah saudara, malamnya bisa menjadi musuh. Kalau malamnya adalah kawan siangnya bisa menjadi lawan.

Keadaan sekarang juga memprihatinkan. Remaja Tunjungsari yang dulu dikenal santri hingga jika ada teman mereka yang mau main jadi malu karena merokok dan tidak pakai kerudung. Kini remaja Tunjungsari sendirilah yang tanpa malu-malu lagi mengum-bar aurat mereka sendiri. Rambut terurai tanpa penghalang kerudung menjadi pemandangan yang bisa dikatakan lumrah sekarang. Atau bahkan memakai pakaian seperti LEPET yang begitu ketat sekarang menjadi tren mode. Padahal dengan gelar sebagai desa dengan semua penduduknya MUSLIM seharusnya pemandangan seperti itu tak pernah terlihat di desa ini. Namun kenyataan bercerita lain. Remaja muslim seolah dengan sukarela menyerahkan harga diri pakaian dan aqidah keislamannya kepada budaya barat yang begitu rendah. Sekali lagi begitu rendah. Semua budaya barat diembatnya mentah-mentah tanpa berpikir panjang. Idola mereka bukan lagi Nabi Muhammad ataupun para sahabat. Idola mereka sekarang adalah Delon, Rossa, Britney Spears, Madonna, Michael Jackson, BackstreetBoys, Ronaldinho, Agnes Monica, atau bahkan Inul daratista yang oleh seseorang diplesetkan namanya menjadi Inul Darah SETAN. Bolehlah mereka dijadikan idola khususnya dalam semangat berkreasi dan bekerja. Tapi kalau yang ditiru yang buruk-buruknya bagaimana? Sungguh miris hati ini. Kalau orang seperti aku saja miris bagaimana dengan para orang tua. Kita tanyakan saja pada

rumput yang bergoyang. Budaya merokok bagi laki-laki seolah menjadi wajib. Kalau seorang aktivis organisasi saja merokok bagaimana dengan yang bukan aktivis. Atau kalau seorang ulama saja merokok bagaimana dengan umatnya. Padahal akibat dari merokok telah dicantumkan di bungkusnya. Mulai dari impotensi yang merupakan monster bagi seorang lelaki, serangan jantung, kanker hingga gangguan kehamilan dan janin. Namun produk olahan dari daun hijau yang cantik itu begitu memesona bagi remaja khususnya laki-laki. Katanya kalau tidak merokok banci & tidak gaul. Padahal itu hanyalah hasutan dari setan yang selalu mengajak manusia pada kehancuran. Dan bisa dibuktikan tanpa rokokpun seseorang bisa berprestasi dan tetep punya teman banyak yang berarti pergaulannya luas, iya kan! Ada lagi mitos bahwa merokok adalah hak asasi manusia dan jika mereka dilarang berarti yang melarang seseorang merokok maka ia telah melanggar HAM seseorang. Padahal yang merokoklah yang melanggar HAM orang yang tidak merokok untuk menghirup udara yang bersih dan tidak beracun (Republika, 5/9/07).

Wilayah desa ini termasuk dalam kawasan Kecamatan Sragi. Namun tahun 2004, bulan September Sragi dimekarkan menjadi 2 Kecamatan; Kec.Sragi di sebelah selatan dan Kec.Siwalan untuk bagian utara. Desa Tunjungsari kini masuk ke dalam Kec.Siwalan.

Dengan Rukun Tangga (RT) sebanyak 17 dan Rukun Warga (RW) sebanyak 4. Desa ini juga dibagi menjadi beberapa dukuh. Dukuh Kauman, Dukuh Tunjung, Dukuh Klanyah, dan Dukuh gempol. Masing-masing dukuh merupakan nama lain dari Rukun Warga. Desa yang letaknya tidak dekat pantai juga tidak di pegunungan ini dipimpin seorang lurah/kepala desa yang dipilih setiap 5 tahun sekali melalui pemilihan secara langsung yang acara pemilihan tersebut kami menyebutnya dengan ‘KODRAH LURAH’. Seorang kepala desa tidaklah digaji. Tapi ia mendapatkan sebuah sawah sepetak yang lebar yang kami sebut dengan ‘BENGKOK’. Cara bacanya bukan bengkok yang berarti melengkung tapi kata ‘BE’ di sini dibaca seperti kita mengucapkan ‘SE’ pada kata ‘SEDIH’.

Pemerintah desa menyediakan sarana dan prasarana. Dalam bidang pemerintahan sebuah Balai Desa terletak di tengah jantung desa yaitu di RT 07 RW 02. Bangunannya khas Jawa Tengah berbentuk ‘joglo’. Dalam bidang kesehatan di desa ini terdapat sebuah PUSKESMAS dengan sepasang suami-istri yang menjadi dokter di sana. Mereka berasal dari Semarang. Tanah pemakaman di desaku ada 4 tempat, 2 di Kauman, 1 di Tunjung, dan 1 lagi di Klanyah. Dalam urusan irigasi air terdapat sebuah sungai besar di bagian barat yang lebarnya ± 25 meter dengan dalam ± 3 meter. Lalu ada sungai keci di sebelah timurnya yang dipisahkan oleh tanggul tanah alami (kami menyebutnya benteng) yang tingginya sekitar 3 meter juga. Satu sungai lagi berlokasi di tengah-tengah desa. Ia membelah desa dari ujung perbatasan desa paling selatan hingga ujung perbatasan desa paling utara. Di tengah jalan, sungai itu bercabang ke barat menuju sawah-sawah. Untuk urusan olah raga ada sebuah Lapangan sepak bola di bagian timur desa yang berbatasan dengan sawah. Walaupun tidak selebar Lapangan San Siro milik klub Italia AC MILAN yang penting kami punya lapangan sepak bola. Yaah, daripada tidak punya! Dalam bidang pendidikan di desa ini terdapat 2 sekolah dasar. Satu sekolah dasar Islam Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) dan satu lagi Sekolah Dasar Negeri Tunjungsari. Serta 2 Taman Kanak-kanak (TK); TK Bustanul Athfal (Muhammadiyah) dan TK Muslimat (NU). Dalam bidang keagamaan ada 2 Masjid besar; di RW satu atau bagian selatan ada Masjid As Sholihin yang merupakan masjid ormas Muhammadiyah dan di RW 3 atau bagian utara terdapat Masjid ormas Nahdlatul Ulama yang namanya Baitul Muttaqin. Sedangkan Mushollanya ada 15 buah dengan rincian Muhammadiyah memiliki 5 buah, Nahdlatul Ulama (NU) 7 buah dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) 3 buah.

Kita lanjutkan esok ya..insya Alloh..


Aksi

Information

9 responses

30 09 2009
dasir

tes…

30 09 2009
Wandi thok

Saya kemarin waktu lebaran silaturohim ke Tirto mas, tanya ama mbakku yang urang asli sana, mana sih Tunjung itu? Dia jawab daerah Kajen, bener gak sih mas?🙄😆

1 10 2009
dasir

kalau yang itu Tanjung pak..

30 09 2009
Wandi thok

Moderasinya diilangin dulu mas Dasir, biar si komeng pada seneng tuh😆
Dari Dashboard :
– Klik segitiga Tampilan
– Klik Diskusi
– Pada jendela diskusi, ilangin centang pada isian moderasi komentar (hold)
Simpan

1 10 2009
dasir

terima kasih pak..sekarang sudah mantab kah?

30 09 2009
arkasala

selamat di blog barunya Mas. Btw saya pernah ke Sragi loh yang deket pabrik gula itu kan?
Sip, salam sukses selalu.

1 10 2009
dasir

iya pak..tapi ke timur kurang lebih 5 km..aminnnn..

30 09 2009
arkasala

wah, kok masih dimoderasi Mas ???

1 10 2009
dasir

wong belum di apa apain pak..baru tes..hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: