Kakakku….

6 08 2009
Sahabatku yang dirahmati dan diberkahi Alloh SWT, apa kabarnya kalian hari ini?
Kabarku alhamdulillah baik dan semoga selalu baik. Aku juga berdoa semoga kalian juga begitu.

Hari ini hari yang bahagia bagiku, doaku yang sering kupanjatkan setiap hari dan setiap waktu kepada Ilahi terkabulkan. Kakakku, kakakku sobat (sebut aja kak Ida). Ia hari ini menikah. Hari ini ia dan pasangannya mengucapkan ijab dan qabul. Janji untuk menempuh hidup bersama telah mereka ikrarkan di hadapan penghulu.

Sahabat, kenapa aku harus membagikan kebahagiaan ini kepada kalian? Kenapa? Karena doaku untuknya telah aku panjatkan semenjak 7 tahun yang lalu. Secara pribadi kakakku selalu memohon kepadaku agar aku mendoakannya supaya diberikan jodoh yang terbaik. Dan hari ini diusianya yang telah menginjak kepala tiga ia melepas masa lajangnya.

Sahabatku, di desaku seorang perempuan yang menikah diusia kepala 3 adalah aib bagi diri dan keluarga. Padahal jodoh dan ajal adalah takdir Alloh yang telah tercatat di dalam kitab lauhul mahfudz. Namun, manusia seperti diriku dan yang lainnya hanya memandang dari sudut yang sempit.

Dulu sewaktu usianya 25 ia didahului kakakku yang lebih muda (sebut saja fani). Waktu itu ia beralasan ia belum siap. Tapi ia tidak marah dilangkahin. Sebab sebelumnya kak fani telah menunggu selama setahun supaya kak ida menikah lebih dulu. Tapi, jodoh yang ditunggu tak kunjung datang.
Waktu terus berjalan. Teman-teman seusianya sudah pada menikah. Ia jadi minder. Apalagi fisiknya yang mungil menambah rasa ketidakpercayaan dirinya.

Suatu ketika, datang seorang jejaka bersama orang tuanya. Ia hendak meminang kakakku. Setelah berbicara dari mata, mulut dan hati, akhirnya kakakku dan orangtuaku menyetujui dan menerima pinangan bujang tersebut. Mereka sepakat untuk membicarakan hari pernikahan pada pertemuan berikutnya.

Hari pertemuan berikutnya, sekitar 2 bulan berikutnya, merekapun datang. Tak ada hujan tak ada badai, ternyata pertemuan yang hanya diwakili oleh orang tua bujang itu hanyalah untuk membatalkan pinangan sebelumnya secara sepihak dan tanpa memberikan alasan yang jelas.

Harapan untuk mengakhiri masa lajangnyapun sirna. Ia bersedih dan menangis. Namun ia tetap tegar. Supaya ia dapat melupakan hal itu, kakakku yang laki-laki (panggil saja Romi) mencoba mengajaknya berdagang di Kebumen. Ia berdagang tahu. Selama di Kebumen, kak romi berusaha memperkenalkannya kepada pemuda-pemuda di sana yang menurut kak Romi baik. Siapa tahu ada yang cocok. Namun ternyata tak ada yang cocok menurut kak ida. Enam bulan ia jualan tahu di sana. Namun ia tak betah. Ia pun kembali ke Pekalongan. Kegiatannya menjadi buruh batik di lanjutkannya.
Jika sedang bosan ia mencoba ngebron *memberi corak emas pada batik* bareng tetanggaku di desa sebelah. Ia juga pindah kerja menjahit di konveksi karena bosan dengan ngebron.

Hari demi hari ia lalui dengan penuh sindiran dan pertanyaan dari tetangga. Kok belum nikah? Sudah ada jodohnya belum? Kapan nikah?
Berulang kali ia harus menjawab pertanyaan itu dengan sabar.
Bukan hanya dia yang terbebani dengan masalah itu, namun orang tuaku juga mengalami tekanan. Doa dan doa tak henti-hentinya kami panjatkan. Sembilan anggota keluarga yang terdiri dari kedua orang tuaku dan kami 7 bersaudara berusaha mensupport dan memotivasi kakakku dengan ucapan-ucapan yang diharapkan mampu memompa semangat bagi kak Ida agar optimis dan tabah dalam menjalani hidup.

Siang hari cerah. Matahari memancarkan sinarnya dengan benderang. Pintu rumah kami diketuk tamu. Ayahkupun membuka pintu. Seorang pria dengan perawakan kekar, agak hitam kulitnya dan berkumis. Ia adalah teman kakak iparku dari kak fani. Dari perkenalan namanya Rudi (bukan nama sesungguhnya). Ia hendak meminang kak ida ternyata. Kak Ida menemuinya. Setelah ditanya oleh om Rudi, apakah kak Ida bersedia menjadi istrinya, kak Ida tidak langsung menjawab ‘ya’. Ia bermaksud meminta waktu dan mengetahui apakah lelaki ini benar-benar serius atau tidak. Om Rudi hanya datang sekali itu dan tak pernah datang lagi. Ternyata ia tak seserius yang diharapkan kakakku.

Lama, hampir 2 tahun tak ada lagi jejaka yang mencoba datang lagi untuk meminang kakakku.

Mungkin karena terlalu memikirkan hal itu ditambah dengan hal yang lain membuat kulit kepalanya mengelupas. Diikuti dengan rontok rambutnya, namun alhamdulillah tak sampai botak. Untuk mengobatinya ia menggunakan sampo ‘betadine’. Tapi itu tak cukup menyembuhkannya.

Setahun setelah pernikahan kak Fani, Kakakku yang laki-laki adik kak Fani (kita panggil aja kak Roni) menikah. Ia melangkahi kak Ida. Pada saat kak Roni menikah kak Ida tak datang. Karena berlangsung di Kebumen dan ia memutuskan untuk tidak ikut bersama kami. Ia hendak menjaga rumah. Aku berprasangka ia tak ikut karena tak sanggup melihat adiknya menikah, sedang ia harus dilangkahi lagi. Mungkin ia takut merasa semakin tertekan. Atau yang lain, aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya.

Setahun berikutnya, kakakku yang no 7 (aku sering memanggilnya kak Ina) menerima pinangan dari jejaka. Ia tak berani melangkah ke pelaminan sebelum mendapat restu dari kak Ida. Enam bulan kak Ina menunggu, namun belum ada lelaki yang datang untuk meminang kak Ida. Akhirnya kak Ina dengan berat hati melangkah ke pelaminan. Dan kejadian itu semakin menambah beban kejiwaan kak Ida.

Kurang lebih enam bulan dari pernikahan kak Ina, datang pria yang agak kurus. Ia bermaksud ta’aruf kepada kakakku. Orang tuaku menyetujuinya, tapi semua kembali kepada kakakku. Berhubung usia kakakku semakin bertambah dan pengalaman yang sudah-sudah, ia langsung menerima pinangan dari lelaki itu. Pinangan resminya terjadi seminggu setelah iEdul Fitri dan insya Alloh pernikahan akan dilaksanakan pada Iedul Fitri selanjutnya.

Setahun bukanlah waktu yang lama. Namun untuk menunggu adalah sebuah pekerjaan yang menjengkelkan. Begitu pula yang terjadi pada kakakku. Dzulqo’dah berlalu. Dzulhijjah datang dengan qurbannya dan musim hajinya. Bulan Muharram menyusul dzilhijjah. Disusul kemudian bulan Shoffar. Tak lama kemudian Rabi’ul Awwal dengan Maulud Nabi datang menjelang. Akhirnya Rabi’ul Akhirpun datang beserta Jumadil Awwal diurutan selanjutnya. Biasanya sesudah Jumadil Awwal adalah Jumadil Akhir. Dan itu pasti. Rojab dan Sya’ban tiba di belakang Jumadil Akhir. Kalau di kampung sebulan sebellum pernikahan ada lamaran namun ini kok tidak muncul-muncul. Orang tuaku menanyakan kepada Lelaki itu, namun ia hanya menjawab nanti bulan puasa. Ternyata seusai puasa dan bahkan Syawal lagi telah berakhir pernikahan itu tak terlaksana. Orang tuku jengkel pada lelaki itu.

Lelaki itu katanya menanyakan pada orang tuanya bisanya akad nikah dilaksanakan tahun baru masehi. Namun lagi-lagi janji itu kosong. Setiap malam minggu lelaki itu tetap datang ke rumah.
Suatu saat, orang tuaku mengomel,”Jangan pernah datang lagi kesini jika belum ada lamaran!!!”
Lelaki itupun tak pernah datang lagi ke rumahku hingga bulan juni kemarin ia datang bersama orang tuanya untuk melamar. Dan tadi pagi benar-benar hari bersejarah itu tercatat dalam buku nikah dan KUA..

SELAMAT MENEMPUH BAHTERA KEHIDUPAN YANG BARU WAHAI KAKAKKU!

Semoga Alloh SWT menjadikan kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah, duhai Kakakku! Bahagia fidunya wal akhiroh…
Semoga Alloh menganugerahkan keturunan yang sholeh dan sholehah serta berguna bagi Agama Islam, nusa bangsa dan masyarakat. Amiiin….

BARAKALLUHU LAKUM, WA BARAKALLAHU ‘ALAIKA,WAJAMA’A BAINAKUMA FI KHOIIR….


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: