Sepeda Jengki Pedal 4

23 06 2009

Pedal 4
MOS

Wahyu, Dofa, Ahmad dan aku serta Basyir bersepeda bersama. Semuanya mengendarai sepeda mini biru merek Phoenix. Pagi pukul 08.00 wib, matahari telah meninggi sepanjang tombak tentara dari garis cakrawala. Jalan Tunjungsari-Kadipaten sepi. Hanya kami berlima pemakai jalan ini. Jalan selebar 2 meter ini belum beraspal hanya tanah coklat keras yang menutupinya. Jika hujan turun di musim penghujan maka kami harus bersiap-siap untuk jatuh karena begitu licinnya. Sedang ban sepeda kami tak mengenal tipe basah dan tipe kering seperti ban Bridgestone ala motoGP.

Jalan ini adalah salah satu jalan penghubung bagi desa kami jika hendak ke kota. Lokasinya berada di bagian selatan desa. Di pinggir jalan sebelah selatannya terdapat sungai irigasi selebar ± 3 meter dengan kedalaman 2 meter. Jika musim kemarau tiba, bisa dipastikan air di sungai itu habis dan bagian dasar sungai akan nampak kering kerontang. Karena sungai tersebut termasuk sungai tadah hujan. Sedangkan sebelah utaranya puluhan hektar sawah membentang. Jika sedang musim tanam sawah tersebut akan terlihat seperti lembaran karpet hijau yang amat sejuk dan sedap jika dipandang oleh indra penglihatan kita.

Kami hendak mendaftar di SMP N 3 Wiradesa guna melanjutkan pendidikan setelah lulus dari MIM Muhammadiyah. Jarak gedung SMP tersebut sekitar 5 km dari desa kami sehingga kami mampu menempuhnya dengan hanya bersepeda. Selain itu memang belum ada angkot dari desa kami menuju ke sana. Pendaftaran akan ditutup pada pukul 12.00 wib.

Besoknya, kami melihat pengumuman. Apakah kami diterima atau tidak? Anak laki-laki dan perempuan SD/MI riuh rendah saling berteriak dan dorong-mendorong. Kulihat namaku tertera di papan pengumuman.
“Hey, konco-konco aku ditompo. Alhamdulillah! Kowe piye, Wah?”
“Alhamdulillah aku podo bae ditompo. Tapi neng kelas 1B.”
“Aku podo bae ditompo neng 1B!” kata Ahmad.
“Nek aku neng 1A, bareng kowe Ibnu!”kata Dofa.
“Syir, kowe ditompo pora?”
“Alhamdulillah aku ditompo, tapi aku misah dewe neng 1D!”
“Ra po-po, tinimbang ora ditompo, iyo kan?”

Bagiku masuk kelas 1A adalah sebuah kebangggaan. Karena di sana berkumpul para pemilik DANEM (Daftar Nilai Ebtanas Murni) tinggi-tinggi.
Sepatu hitam merek Reebok kukenakan di kaki kanan dan kaki kiriku. Kaos kaki putih polos melapisi kaki mungilku sebelum Reebok menutupnya. Kain bendera Indonesia terbalik membungkus badan kerempeng yang telah terisi nasi megono. Putih di atas sebagai baju dan merah sebagai celana. Seragam MI yang dulu dipakai setiap hari senin dan selasa ini wajib kami pakai selama acara resmi yang berjudul MOS (Masa Orientasi Sekolah). Masa orientasi ini akan berlangsung selama 3 hari. Sebelum periodeku masuk SMP namanya bukan MOS melainkan PENATARAN P4.

MOS adalah acara yang dimaksudkan untuk memperkenalkan sekolah kepada kami. Baik memperkenalkan gedung-gedungnya yang selalu membisu kepada kami ataupun sistem pengajaran yang akan kami hadapi dan gunakan serta guru-guru dan lingkungan yang akan kita injak setiap hari senin hingga jumat selama 3 tahun. Selain itu MOS dimaksudkan untuk lebih mengakrabkan antar siswa baru yang berasal dari SD dan MI serta desa yang berbeda. Di acara MOS kami juga diajak bermain dari yang keras dan menakutkan hingga yang lemah lembut penuh kelucuan serta sedikit menggelitik.

Di SMP, MOS tidak diadakan seperti di tingkat SMA. Kalau di SMA kadang-kadang siswa baru disuruh ini dan itu. Seperti disuruh menggunakan pita dari tali rafia berwarna-warni bagi yang perempuan serta menggunakan topi kerucut dari kertas karton bagi yang laki-laki. Ataupun disuruh menggunkan sepatu yang berbeda warna. Tapi kalau di SMP kami benar-benar dididik untuk mengenal apa itu sekolah menengah pertama, bagaimana tantangan dan kendala serta persiapan apa yang harus dilakukan ketika kami berada di sana. Kami juga diajarkan bagaimana tata krama terhadap teman dan guru. Semua materi itu tertuang dalam materi yang kakak pembina bilang WAWASAN WIYATA MANDALA.
Upacara apel pagi sebelum MOS di mulai.

“Semuanya siaap..krek!”
“Kepada Sang Merah Putih Hormaaaat…krek!!”

Serentak tangan kanan kami terangkat menuju pelipis kanan. Sebuah kain berwarna merah dan putih berkibar di angkasa. Rasa haru dan merinding menggelayut sekujur badan merasakan perjuangan para pahlawan dahulu yang merebut kemerdekaaan dari tangan keparat Belanda. Mereka rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi mem-pertahankan sebuah harga diri bangsa yang diinjak-injak. Bahkan harta terakhir mereka yang tidak dapat diganti dengan apapun juga dikorbankan yaitu nyawa mereka. Dalam benak mereka tertanam kata-kata pengobar semangat penuh makna : LEBIH BAIK BERPUTIH TULANG DARIPADA BERPUTIH MATA dan bagi yang muslim lebih bersemangat lagi dengan kata-kata : HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID. Nyawa merekapun akhirnya melayang dengan status syahid dengan surga penuh bidadari telah menunggu di akhirat sana.

Upacara telah selesai tapi kami tak boleh masuk ke ruangan. Ternyata, kakak-kakak pembina ingin memberikan kami pendidikan latihan baris berbaris seperti tentara. Dari posisi siap, lencang kanan, lencang kiri, jalan di tempat, hadap kanan, hadap kiri, belok kanan, belok kiri, berhitung, hormat kepada bendera merah putih, istirahat di tempat, hingga langkah tegap yang membuat kaki cepat capek karena kaki harus dihentakan dengan kuat. Waktu kami berhitung banyak yang salah. Temanku si Amat waktu berhitung salah satunya. Ceritanya begini. Dia berdiri di barisan depan dan nomor dua dari kanan. Sewaktu kami disuruh berhitung oleh kakak pembina ia harusnya mengucapkan dua tapi tak disangka yang keluar lain.

“Semuanya siaap..krek!”
“Berhitung….! Mulai!!!” aba-aba dari kakak pembina laki-laki.
“Satu…,”suara temanku nomor satu.
“………………………………………………” semuanya diam tak ada yang bersuara termasuk aku.
“Mat!!!”teriak temanku satunya yang berada di belakangnya.
“Ada apa?” jawab Amat.
“Giliran kamu berhitung!!”
“Oh ya, S-Y-A-T-U!” teriaknya memecah keheningan suasana. Sontak semua peserta MOS tertawa cekikikan.

“Di…..aaaaammmmmmm, semuanya diiiiiaaaammmm!!!!!!!” kakak pembina berteriak kencang bak serigala melolong di malam jumat kliwon.
Secara otomatis anak-anak diam karena takut.
“Ulangi ya..siapa kamu namanya dik?”
“Amat, Kak!” kata temanku yang tadi menegur.
“Jangan melamun ya, nanti kakak suruh push up lho!”
“Iya kak!”

“Berhitung mulai..!”
“Satu..dua..tiga..empat..lima..enam..tujuh..delapan…9..10..11..12..13..14..15..16!!”
Semua siswa baru memang berjumlah 160 yang terbagi dalam 4 kelas dari A, B, C, dan D serta tiap 1 baris berbanjar 10 anak.

Sewaktu jalan di tempat suara hentakan sepatu begitu keras. Kaki kami harus diangkat setinggi-tingginya.
“Ayo diangkat setinggi rata-rata air!!”
“Kak tidak ada air di sini!” cerocos temanku yang bocor.
“Maksudnya angkat kaki setinggi ini!” kakak pembina dari OSIS itu mempraktekan dengan mengangkat kakik kanannya membentuk sudut 900 dengan betisnya. Sedangkan kaki kirinya berpijak di bumi berdiri lurus.

Sedangkan untuk latihan penghormatan lain lagi ceritanya.
“Ayo siku kalian membentuk sudut 450!” Begitulah komando kakak pembina. Sebab kalau sudutnya 900 seperti ganmbar polisi lalu lintas di belakang gambaran punyaku dulu waktu aku masih kecil yang menandakn itu urutan 30. Dan kalau sudutnya 1800 itu namanya lencang kanan bos!

“Semuanya siaap..krek!”
“Posisi siap itu tangan mengepal seperti waktu kita memeras santan kelapa. Diletakkan menempel di paha. Pandangan lurus ke depan jangan tengak-tengok kanan dan kiri. Seperti mau manyeberang jalan raya saja. Kaki kanan dan kiri dirapatkan membentuk huruf V!” Kakak pembina mengingatkan peserta MOS yang masih kikuk dan tegang sehingga lagi-lagi salah.

Hatiku mulai dongkol. Dongkol kenapa? Karena matahari mulai mencurahkan semua sinarnya yang terik. Tapi kakak pembina belum juga kelar memberikan materi PBB (Pelatihan Baris Berbaris) ala tentara ini. Ranah pikiranku mulai berdendang.

“Emang kakak bisa apa memeras santan? Yang benar itu memeras parutan kelapa untuk menghasilkan santan, Kak!”
“Tangan menempel di paha? Biar lengket sekalian kasih lem ALTECO saja!”
“Pandangan ke depan? Ya iyalah ke depan, kalau ke bawah namanya orang lagi mencari uang recehannya yang hilang!!”

“Kaki dirapatkan? Hal kecil menempelkan kaki saja harus pakai rapat segala, sekalian saja votting unutuk menentukan siapa yang setuju dan siapa yang tidak setuju mengenai kaki membentuk huruf V atau pingin ganti dengan huruf yang lain seperti huruf L, X, A atawa C. Begitu kan lebih demokratis, ya kan?

“Tepuk Pramuka…!!!!”
“Prok..prok..prok..Prok..prok..prok..Prok..prok..prok..Prok..prok…….prok….prok..!!

Hari jumat jam 16.00 wib adalah ekstrakulikuler pramuka. Pramuka singkatan dari Praja Muda Karana. Kesatuan yang muncul dari ide orisinil Kakek Jhon Hendry Dunant ini selalu mengenakan pakaian cokelat-cokelat. Pakaian atas cokelat muda dan celananya cokelat tua. Dengan tambahan berupa gambar tunas kelapa di saku kanan dan di baret juga ada. Dasi merah putih dilipat-lipat bak ular tali wongso yang bermutasi dari sebelumnya warna kuning dan hitam. Serta berpindah dan bermigrasi habitatnya dari sebelumnya di hutan kini selalu nyangkut melingkar di leher para pasukan bertongkat itu.

Kami akan tampak gagah sekali jika sudah mengenakan semua aksesori dan embel-embel yang berbau PRAMUKA. Tali temali selalu menggantung di ikat pinggang hitam kami. Ikat pinggang harus hitam tidak boleh putih. Dan selalu hitam tidak pernah naik tingkat ke sabuk merah. Kami naik tingkatnya dari Siaga mula ke siaga bantu lalu ke siaga tata. Di tingkat berikutnya adalah Penggalang ramu, rakit dan terap terus ke Penegak bantara dan laksana dan terakhir Pandega. Setiap anggota pramuka seperti kami wajib menghafalkan 2 puisi yang disebut TRISATYA dan DASADHARMA PRAMUKA.

TRI SATYA

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh
-Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonmesia dan menjalankan Pancasila.
-Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat.
-Menepati dasa dharma.

DASA DHARMA PRAMUKA

Pramuka itu:

1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan kesatria
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela menolong dan tabah
6. Rajin, trampil dan gembira
7. Hemat, cermat dan bersahaja
8. Disiplin, berani dan setia
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: