Sepeda Jengki Pedal 2

20 06 2009

Pedal 2
Roumpet, Patahan, dkk

Dan di desa Tunjungsari inilah masa kecilku kuhabiskan. Sehingga di sana tercipta berbagai kenangan indah masa kecilku penuh kelucuan, cerita suka, dan cerita duka. Cerita permainan roumpet ( petak umpet ) di malam harinya saat bulan sedang purnama adalah hal yang menyenangkan. Jika roumpet, kami biasanya bersembunyi di tempat-tempat yang gelap kalau perlu kami ngumpet di hutan desa sehingga yang jaga tak bisa menemukan kami. Yang paling menyenangkan jika kita tak pernah jaga. Biasanya ada anak yang jaga terus. Tak pelak akhirnya ia mengambek dan pulang sambil menangis karena di sorakin sama teman-teman, ”PANGGANG LAMPIRAK IWAK JUWI ENAKO TRASI BAKARAN BOCAH DADI NAKALAN”.

Ada lagi cerita memancing ikan dan belut serta udang di sungai bareng teman-teman lelakiku. Yang sebelum memancing kami mencari elur (cacing) di sawah untuk umpan ikan, mencari yuyu ( kepiting sawah ) untuk umpan udang dan mencari bancet ( katak kecil ) untuk umpan belut.

Terus cerita memanjat pohon salam setinggi 14 meter untuk memetik buahnya yang kecil-kecil dengan 3 warna; merah, hijau dan hitam di pinggir sungai Besar. Yang merah adalah buah salam yang sudah mateng untuk kami makan, yang hijau adalah buah salam yang masih mentah untuk kami gunakan sebagai peluru pistol-pistolan kami yang terbuat dari bambu untuk bermain bedil-bedilan (tembak-tembakan) sedangkan yang hitam merupakan salam yang rasanya seperti anggur, manis banget. Dan jika kami memakannya bibir kami, gigi kami, dan gusi kami akan berubah, berubah warnanya menjadi hitam dan hitam persis seperti nenek-nenek di desa kami yang suka memakan kinang / menginang (mengunyah daun sirih). Katanya sih untuk menguatkan giginya.

Dan kami sering mandi di sana, di sungai besar itu sehabis lari pagi setiap hari minggu ke rel kereta api bareng konco-konco (teman-teman). Berlomba renang menyeberangi sungai selebar 25 meter itu. Ataupun berlomba menyelam siapa yang paling lama dapat bertahan diam di dalam air tanpa bernapas.

Atau bermain polo air dengan bola plastik. Sungai besar ini yang setiap tanggal 1 Oktober airnya berlimpah karena dikirimi air dari pintu air irigasi Bukur, daerah Kajen. Katanya sih untuk memperingati peristiwa bersejarah yang setiap tanggal 30 September kami wajib nonton filmnya, G30S/PKI. Entah apa hubungannya antara peristiwa G30S/PKI dengan dikiriminya sungai besar kami sehingga ikan-ikan yang se-dang berenang minggir dengan suka rela minta ditangkap oleh kami. Seperti penjahat yang taubat lalu menyerahkan diri ke pihak berwajib. Apa dikira ikan-ikan itu dianggap 7 jenderal yang diculik lalu dimasukkan ke Lubang buaya. Dan kami adalah buayanya, begitu, enak aja. Tapi dengan adanya peristiwa G30S/PKI kami bersedih dan bersyukur. Bersedih karena kami kehilangan tokoh-tokoh yang tak bersalah diculik dan dibunuh oleh pasukan palu arit itu. Bersyukur karena paling tidak setiap tahun kami akan panen ikan yang menyerahkan diri akibat kiriman air itu.

Tak luput dari ukiran di ingatan cerita berikutnya adalah gobak sodor. Kami memainkannya tatkala hari mulai menampakkan sinar jingganya. Bermandikan sinar itu sepulang kami dari mengaji di TPA Al Himmah kami asyik menggaris kotak persegi panjang di tanah lapang yang merupakan halaman rumah Wo Lehan. Dua kelompok dibagi dengan seimbang dan adil setelah sebelumnya kami usut (suwit) antar teman yang sebaya. Yang kecil layakan (suwitan) sama yang kecil yang besar layakan sama yang besar. Hingga jika adzan maghrib dikumandangkan Lek Rali barulah kami berhamburan ke Musholla.

Cerita main bal-balan (sepak bola) di bawah guyuran hujan dan petir sambil slarakan (seluncur di tanah licin) menambah indahnya catatan dalam buku diary. Sepak bola dengan bola plastik itu kami lakukan di tanah lapang dengan puluhan pohon kelapa yang berbaris rapi di pinggir dan di tengahnya milik Lek Bakir.

Borem menjadi kisah selanjutnya. Permainan ini juga di mainkan oleh dua group. Sebuah group bisa terdiri dari 6-10 orang. Bisa kurang bisa lebih. Permainan ini sebenarnya sama dengan sepak bola. Tujuannya yaitu menjebol gawang lawan. Dalam urusan menjebol gawang posisi badan sang penjebol harus dari depan tidak boleh dari belakang. Karena itu dianggap tidak sah. Namun di sini tak ada bola plastik dan gawangnya pun hanya terbuat dari tepes/kulit kelapa yang ditumpuk dengan sandal para anak desa. Yang dimaksud menjebol adalah salah satu anggota kita masuk ke gawang lawan tanpa di sentuh pihak lawan. Pada babak awal, group 1 harus mengorbankan 1 personilnya untuk dikejar lalu di tangkap atau hanya disentuh dan dipegang seorang perwakilan group 2. Jika perwakilan group 1 sudah pulang tanpa bisa disentuh/dipegang perwakilan group 2, maka gantian group 2 mengorbankan salah seorang perwakilannya yang lain untuk dikejar dan ditangkap perwakilan anggota group 1. Seandainya tertangkap, maka ia menjadi sandera group 1. Sehingga penjaga gawang/ rumah group 2 yang lebarnya hanya 2 langkah kaki orang dewasa itu otomatis berkurang. Dan itu akan mengurangi kekuatan dari group 2 dan menambah kekuatan bagi group 1 untuk menjebol gawang group 2. Untuk menyelamatkan sandera, para anggota group 2 silih berganti menyusup dari depan, belakang, samping kanan maupun samping kiri. Cara penyelamatannya adalah sang penyelamat menyentuh bagian tubuh mana saja si sandera. Sang sandera ketika disentuh temannya harus lari dan melepaskan diri dari gawang yang ia tempel untuk menyelamatkan diri dari sentuhan lawan yang menyanderanya. Karena jika ia lari setelah disentuh temannya tapi ia sebelumnya tak menempel ke gawang maka ia belum bisa dianggap selamat dan harus kembali menjadi sandera hingga ia diselamatkan kembali oleh temannya. Kemudian jika yang kejar-mengejar sudah pulang gantian anggota group satu yang berikutnya untuk dikejar anggota group 2 juga yang lain dan seterusnya hingga semua anggota group 1 dan group 2 pernah merasakan kejar-kejaran. Atau tanpa menunggu yang kejar-kejaran pulang ke gawang, perwakilan group 2 bisa langsung mengejar perwakilan group 1 yang tadi hendak menangkap temannya. Apabila salah satu anggota group 1 mampu menerobos gawang /rumah group 2 maka group 1-lah pemenangnya atau sebaliknya group 2 mampu menerobos gawang /rumah group 1 maka group 2-lah pemenangnya. Dan permainan pun diulang dari awal dengan sebuah kebanggaan sebagai hadiah bagi sang pemenang.

Tak lupa juga dengan cerita mencari kroco (siput sawah yang bokongnya lancip) dan kiong (siput sawah dengan bokong tumpul) di sawah di sore hari kala musim panen telah usai. Jika kroco dan kiong sudah terkumpul kami memasaknya dan memakannya dengan biting/potongan lidi sebagai alat pencungkil daging dari rumahnya.

Juga mencari jangkrik yang memerlukan perjalanan agak jauh karena harus ke desa tetangga. Selain itu juga pencarian tebu sisa yang sedang dipanen Pabrik tebu Sragi yang juga harus pergi ke desa tatangga yang juga jauh jaraknya.

Cerita selanjutnya adalah bermain panggalan (gasing) yang terbuat dari batang pohon kemuning yang tua biar keras dan kalau diadu tidak mudah lecet dan bonyok jika kena jalu gasing lawan yang terbuat dari paku yang ditancapkan dibokong gasing. Gasing tersebut sendiri kami putar dengan tali yang terbuat dari kulit batang pohon pisang yang diplintir-plintir.

Aku juga akan teringat dengan masa kecil dulu dengan permainan Patahan (dalam istilah Jakarta deprok) tapi aku lebih cocok dengan istilah englek. Karena permainan ini kita harus berdiri dengan satu kaki lalu melompat-lompat dengan satu kaki juga melewati ko-takan-kotakan yang digaris/digambar di atas tanah. Jenisnya ada be-berapa macam: Patahan slorok (deprok laci; di dalam patahan slorok kita disuruh menabung nominal. Lalu setelah tabungan kita terkumpul sejumlah 10.000 kita akan mendapatkan sebidang tanah yang da-pat kita gunakan untuk mendeprok dengan 2 kaki atau untuk istirahat setelah capek melompat-lompat seperti kelinci dengan satu kaki melewati 4 kotak. Cara permainannya kita harus mendorong patah (pecahan genting) dengan kaki satu menuju angka-angka yang telah ter-sedia dari angka terkecil 100 yang mudah kita dapat karena letaknya ditengah dengan porsi kotak terbesar hingga angka 10.000 yang sulit kita raih karena tempatnya diujung dengan porsi kotak terkecil).

Selanjutnnya ada patahan uwong (deprok orang; di dalam patahan ini gambarnya bukan kotak-kotak lagi tetapi seorang manusia berjenis perempuan berpakaian rok yang merentangkan tangannya yang pan-jang dengan kepala besarnya yang tiduran terus menerus tanpa mengeluh capek dan sakit walaupun diinjak-injak tanpa ampun beberapa jam oleh anak-anak kecil macam aku yang sedang menikmati masa-masa kecil penuh bahagia walaupun tanpa PS (Playstation) ataupun peralatan game seperti mobil/pesawat radio kontrol.

Jenis patahan berikutnya adalah patahan mlaku (berjalan). Patahan ini tidak mengenal istilah berjengklek ria (melompat-lompat dengan satu kaki). Tapi dilakukan dengan berjalan. Tapi untuk mendapatkan sebuah tempat deprok (berdiri dengan 2 kaki aku harus melewati tahap-tahap yang melelahkan.

Dari berjalan membawa patah (potongan genting) sambil ditaruh telapak tangan terbuka yang merentang, lalu berjalan membawa patah ditaruh dipunggung telapak tangan yang juga di-rentangkan, kemudian berjalan dengan menaruh patah diatas tangan yang dibentuk seperti gelas dan patah dianggap seperti tutupnya dengan tangan ditekuk di depan dada, tahap berikutnya sama seperti tahap sebelumnya tapi sekarang tangan merentang, terus tahap mem-bawa patah ditaruh di atas pundak kanan setelah itu pundak kiri ke-mudian tahap patah ditaruh di atas kepala sehingga pandangan kita terus ke depan tanpa melihat gambar permainan dan kalau kita meng-injak garis maka giliran lawan yang akan jalan.

Tahap yang bisa dianggap semifinal permainan sebelum kita mendapat jatah lahan deprok adalah tahap membawa patah yang ditaruh diatas punggung kaki kanan kemudian gantian yang kiri lalu kita berjalan sambil membawa patah tersebut sehingga kita akan berjalan seperti korban patah tulang kaki yang jalan terpincang-terpincang tak karuan. Tahap selanjutnya berjalan tanpa membawa patah tapi mata kita dalam keadaan tertutup dan kita akan menebak-nebak gambar di tanah supaya tidak keinjak, persis seperti bapak buta yang mau me-nyeberang di jalan raya yang kesulitan tanpa dibantu pemuda normal yang melihatnya tapi enggan membantunya.

Itulah tahap terakhir dari patahan mlaku yang gambar permainannya seperti gambaar salip yang terbentuk dari kotak-kotak persegi dengan jumlah semau kita, kadang sebelas kadang cuma delapan.

Ada lagi patahan payung.Jenis patahan ini dimainkan diatas lingkaran yang dibagi menjadi 16 bagian busur lingkaran. Ukurannya dibuat sama antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Pada bagian bawah lingkaran terdapat kotak-kotak persegi yang dibentuk melengkung seperti gagang payung. Peraturan permainan ini adalah kita harus mengitari busur-busur lingkaran tadi dengan melompat-lompat bergantian antara kaki kanan dan kaki kiri.

Lompatan kaki kita bergaya seperti kora-kora di Dufan yang sedang beraksi. Jika kaki kanan diangkat kebelakang maka kaki kiri akan mundur ke belakang menggantikan posisi kaki kanan. Dan jika kaki kanan hendak turun maka kaki kiri maju ke busur bagian depannya. Terus hingga semua busur selesai dikitari. Jika patah menempati busur maka bersiap-siaplah untuk membuka kaki lebih lebar dan itu akan menguntungkan bagi yang berkaki panjang. Karena kalau kaki kita pendek kita bisa menginjak garis yang berarti kita akan kalah.

Aku juga mengingat kenangan belajar sambil planggrokan (bertengger) di atas pohon jambu klutuk (jambu biji) sepulang sekolah sehingga jika aku lapar tinggal ngkrikiti ( memakan sedikit demi sedikit) jambu tadi.

Kenangan belajar itu lebih mengena karena yang kupelajari adalah pelajaran IPS guna persiapan menghadapi ujian nasional. Alhamdulillahnya pas lulus aku menjadi juara kelas mengalahkan pesaingku yang perempuan.

Atau juga kenangan tak terlupakan yang lain yaitu permainan kasti. Ada juga game seru yang sekarang sudah jarang dimainkan anak-anak di desaku yaitu game sekéténg ( game menyerang lawan dan mengghindar dari serangan lawan.

Game ini hanya boleh dilakukan dengan 1 tangan, kalau kanan ya kanan saja dan kalau kiri ya kiri saja tidak boleh dua-duanya alias tidak boleh dengan tangan kanan-kiri. Baik dalam bertahan ataupun menyerang. Kalau menghindar boleh, mau lari sejauh-jauhnya terus tidak kembali juga boleh asal nanti kalau ibumu bertanya mencarimu kawan jangan salahkan kami.

Daerah ditubuh yang diincar adalah kepala dan kaki, kalau musuh sudah kena kepala atau kakinya maka dianggap kalah, biasanya kami bermain dalam 2 kelompok yang anggotanya tak terbatas dan dalam satu kelompok kami harus saling melindungi dari serangan lawan. Jika sudah kalah salah satu kelompok maka permainan akan diulangi dari awal dan hadiah bagi yang menang adalah sebuah kebanggaan diakui kehebatannya. Cerita lucu di sini adalah jika ada anak yang besar menyerang yang kecil. Dijamin 98 % yang kecil kalah, yang besar akan menang kecuali 2 sebab yang dapat membuat si besar kalah adalah yang besar jatuh atau diserang dari belakang. Karena di sini strategi juga menentukan kawan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: