Selain Batik dan Nasi Megono ternyata Pekalongan punya kebanggaan yang lainnya. Yaitu JENANG. Makanan yang lengketnya seperti dodol ini sungguh terkenal di Pekalongan. Ia sangat dicari oleh jejaka. Khususnya jejaka yang hendak meminang (nyangsangi) gadis pujaaannya. Biasanya produksi akan meningkat pada bulan Syawal.
Sebab pada bulan ini para kumbang menaburkan benih-benih cintanya kepada bunga-bunga. Para orang tua serombongan datang ke rumah gadis membawa pengikat cinta seperti kalung atau cincin atau gelang. Dan yang pasti si jenang harus di bawa juga jika mau dianggap meminang. Biasanya mereka membawa 15 sampai 20 lembar jenang ketika meminang. Di tambah makanan dan buah-buahan yang lainnya.
Jenang terbuat dari tepung ketan yang dicampur dengan santan kelapa dan gula jawa. Mereka dimasak diatas wajan ukuran besar dan diaduk-aduk hingga rata dan kental. Mereka masih menggunakan tunggu tradisional dengan bahan bakar kayu. Katanya sih, kalau menggunakan kayu itu rasanya jadi mantab. Atau memang menghemat Pak? Hehehe.. Ukuran jenang standard 30 x 50 cm. Harganya Rp 12.000 – Rp 15.000/lembar. Namun sebelum dipotong jadi ukuran seperti itu, awalnya jenang ditumpahkan ke atas papan yang landasi daun pisang yang telah diolesi minyak kelapa. Setelah agak dingin barulah jenang dipotong jadi ukuran lembaran 20 x 50 cm. Jenang warnanya cokelat dan rasanya manis legit. Tahan hingga seminggu lebih. Makanan ini tidak menggunakan bahan pengawet selain pengawet alami yaitu gula jawa.
Desa yang memproduksi jenang berada di Desa Kemplong,Kecamatan Wiradesa,Kabupaten Pekalongan. Letaknya di sebelah utara pantura. Tidak hanya satu rumah yang memproduksi jenang, namun hampir seluruh warganya adalah pengrajin usaha jenang. Biasanya kalau tidak bulan Syawal, jenang dipasarkan di Pool Bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) di Perempatan Wiradesa dan pasar tradisional di kecamatan-kecamatan se-Pekalongan.
Sayangnya para pengrajin ini belum berani memberikan merk dan belum didaftarkan ke Badan POM. Sehingga penampilan yang sederhana hanya dengan bungkus plastik bening membuat para pembeli bertanya-tanya. Apakah ini aman atau tidak? Halal atau tidak?
Selain itu mereka juga kurang promosi. Setiap pelanggan yang datang tidak mereka berikan nomor yang bisa dihubungi jika untuk memesan, sehingga pemasaran hanya masih melalui tradisional. Yaitu dari mulut ke mulut. Peran Pemerintah sepertinya juga kurang dalam mempromosikan makanan khas Pekalongan ini.
Inilah gambar produksi JENANG yang berhasil dasir ambil gambarnya.
Cukup segini yang bisa dasir sampaikan, semoga bermanfaat.
Salam Hangat Tuk Sahabat Semua…



























Komentar Terakhir