Lembah rerumputan terhampar. Menyambut riuh rendah embikan domba. Seorang anak berumur 12 tahun duduk di bawan anggrung mengamati gembala dombanya yang berlari ke sana kemari. Sesekali ia menunduk meneruskan bacaan buku pelajaran Matematikanya. Tangannya lincah menggoreskan ballpoint pilot warna hitam di atas buku catatannya.
Ia sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mati-matiannya matematikanya. Gembalanya yang berjumlah 15 ekor itu menemaninya bermain sambil belajar. Hadiah ulang tahun dari ayahnya dulu sebelum beliau meninggal itu tadinya satu ekor betina. Namun setelah dikawinkan dengan kambing jantan tetangga akhirnya beranak pinak. Setiap siang sehabis sekolah ia membawa kesepuluh dombanya ke Lembah Enay. 6 ekor domba dewasa dan 3 ekor domba anak itu gemuk-gemuk kecuali satu ekor domba anak yang kurus. Sedangkan 5 ekor lainnya merupakan titipan Pamannya.
Dengan kaos oblong hijau yang mulai meluntur warnanya itu ia berdinas. Tiga hari sekali ia ganti baju dinas dengan kaos oblong warna biru yang sama-sama bertanda ‘CENTANG’ di dada sebelah kirinya. Untuk hari Jumat ia mengenakan kaos cokelat yang juga bertanda ‘Centang’ di dada kirinya. Hal itu ia laksanakan sewaktu ayahnya akan meninggal, ia diberi 4 kaos. 3 kaos oblong warna hijau, biru dan cokelat. Serta satu lagi warna putih. Jika yang putih jadi seragam untuk menggembala maka dia tak punya kaos putih lagi. Padahal ia memimpikannya sejak setahun sebelum ayahnya meninggal. Ia berpikir kalau kaosnya buat menggembalakan kambing maka akan kotor dan berubah jadi cokelat juga. Artinya nanti kaos cokelatnya ada dua. Padahal jika hari Jumat pagi di sekolahnya ada senam pagi yang diharuskan mengenakan kaos putih.
Matahari agak condong ke barat. PR matematikanya telah selesai. Ia hendak pulang bersama gembalaannya. Di tengah perjalanan, ia dihadang seseorang.
“Dik, boleh tidak kambing yang paling gemuk itu aku beli?” tanya paman bertopi keruduk itu.
“Maaf paman, aku tak bisa menjual kambing-kambing ini.” jawab anak itu.
“Kenapa?” heran pama itu sambil menurunkan cangkul yang ada dipundaknya.
“Ini hanya titipan ayahku dan pamanku. Keduanya berpesan agar aku menjaganya dan merawatnya. Hanya itu pesannya!” terangnya.
“Bukankah mereka tidak tahu? Kamu bisa jual dengan harga tinggi domba itu. Dan jika keduanya bertanya, bilanng saja dimakan Singa atau Macan.”
“Ayahku telah meninggal dunia Paman dan seandainya mereka tidak tahupun tapi Alloh Maha Tahu, Paman!” jawab anak itu sambil menundukkan kepala.
Paman itupun terkagum dengan anak itu lalu mohon maaf dan berpamitan.
Komentar Terakhir